Tanggal Posting

February 2012
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Aktifitas


Dendam

 

Pengantar

Dendam selalu disertai sakit hati, dan dijadikan alasan dan dasar melakukan pembalasan, seakan mendapatkan ijin khusus dari Tuhan, bahkan lengkap dengan “bonusnya”. Jika ditampar perlahan, sebagai bonusnya, tamparan balasan bisa jadi sangat keras. Kalau perlu sampai orang itu pingsan. Jika hari ini belum bisa membalas, ia berubah menjadi hutang yang wajib dibayar.

Jika tangan sendiri tidak mampu melakukannya, bisa mengutus orang mewakili, agar hutang-hutang itu menjadi lunas, berikut bunganya sekalian.

Anatomi Dendam

Dendam pula yang menyebabkan banyak tindak kriminalitas bermunculan, di mana saja. Penyerangan kelompok, tawuran pelajar dan warga, pembunuhan, dan bahkan berbagai kejahatan, banyak penyebabnya adalah dendam. Secara garis besar, ada 3 (tiga) komponen yang menghidupi dan bersanding dengan dendam itu, yaitu: (1)  Ada perbuatan, (2)  Ada perasaan sakit hati, dan (3)  Ada keinginan membalas.

1.  Perbuatan

Ada perbuatan orang yang menjadi penyebab munculnya dendam. Dalam banyak situasi, tidak bisa dicegah orang berbuat sesuatu. Juga tidak berhak menyuruh atau melarang orang melakukan atau menghindari sebuah perbuatan. Paling hanya menghimbau: “Maaf, Mas, jangan merokok di ruangan ber-AC”.

Mungkin saja dia berhenti merokok, atau pindah ketempat terbuka, atau memasabodohkan anjuran itu. Atau bahkan terjadi keributan hanya karena sebatang rokok!

Akan halnya bagi seorang atasan (bos), paling muncul perkataan: “Optimalkan jam kerjamu.” Atau “Lakukan kegiatan ekstra untuk perusahaan.” Atau “Jangan terlambat masuk kerja”. Dengan kewenangan, serta demi kebaikan organisasi dan diri mereka, namun tetapi di mata mereka bos itu tidak lebih dari seorang atasan yang bawel.

Dalam hal ini, tidak ada yang bisa mengontrol tindakan atau perbuatan orang sepenuhnya. Tidak ada kekuasaan mutlak mempengaruhi “will” (kehendak) seseorang. Sebab, ‘kehendak’ itu adalah hak yang manusiawi. Ada orang yang mampu mengarahkan kehendaknya kepada hal-hal postif dan produktif, dan ada pula sebaliknya.

b.  Perasaan Sakit Hati

Mungkin anda bisa mengatakan ’sakit sekali rasanya hati ini’. Namun, bisakah anda menemukan letak rasa sakit hati itu? Di bawa ke rumahsakit pun tidak akan membantu menemukan letak rasa sakit itu.

Sakit hati itu adanya di awang-awang. Hanya perasaan yang bisa menjangkaunya. Liver (hati)nya sehat walfiat, tetapi mengapa merasakan sakitnya begitu rupa? Itu karena orang membiarkan perasaannya merengkuh rasa sakit itu, lalu membawanya masuk ke dalam hati. Seandainya tidak mengijinkan perasaan menggapainya, maka tidak akan merasakannya.

Sakit hati sama sekali tidak berhubungan dengan tindakan orang lain; melainkan dengan diri sendiri. Jika kita tidak menginginkannya, maka tindakan apapun yang dilakukan oleh orang lain, ia tidaklah akan berhasil menjadi sakit hati. Dihina sebegitu rupa; namun tidak mengijinkan perasaan membawa sakit hati, maka akan tenang-tenang saja.

Ada yang menggosipkan kekurangan seseorang, lalu gosipnya ditambah dengan bumbu-bumbunya sampai terbentuk opini sedemikian buruknya. Sakit hati? Tidak, jika tidak mengijinkan sang perasaan melakukannya. Jika tidak seperti yang mereka katakan; maka itu tidak mempengaruhi baik buruknya diri anda. So what? Emangnya gue fikirin!

c.  Keinginan Membalas

Bila seseorang sakit hatinya, lalu dendam mulai tersulut lalu membara di dada, saat itulah muncul keinginan melakukan pembalasan. Namun, pertimbanganlah dengan 3 hal di bawah ini: 

1.  Iya kalau lebih kuat, kalau tidak?

Kalau mereka lebih kuat tetapi tetap ngotot melakukan pembalasan, itu berarti bunuh diri. Melakukan pembalasan kepada pihak yang lebih kuat, itu sama sekali bukanlah tindakan cerdas. Jika benar-benar cerdas, lebih baik lupakan saja balas dendam. Buang jauh-jauh sifat dendam, maka hidup akan tenteram.

2.  Membalas berarti membuat dendam baru

Mungkin balas dendam menyebabkan terbalaskan sakit hati. Tetapi harap diingat; pembalasan itu akan menumbuhkan dendam baru. Akan terjadi saling balas yang tak pernah habis-habisnya.

Dendam berputar-putar, tidak tahu kapan berhenti. Anak keturunan nanti harus ikut menanggungnya, meskipun mereka tidak tahu menahu. Maukah mengorbankan anak cucu untuk sebuah dendam? Tentu saja tidak. Bagus. Lupakan dendam kesumat itu dan cukup sampai di sini.

 2.  Balas dendam, itu “kurang kerjaan”

Balas dendam adalah pertanda kurang kerjaan. Masih ada 1001 hal penting yang membutuhkan curahan perhatian, dan hidup menjadi lebih berarti.

Balas dendam itu membuang-buang waktu, tenaga, dan perhatian. Semua hal positif akan terbengkalai karena sibuk mengurusi dendam. Hidup menjadi kurang bermakna. Lebih baik katakana: “Tak punya waktu memikirkan balas dendam”.

Perbuatan buruk orang lain yang menimpa seseorang, tidak perlu dibalas dengan perbuatan buruk yang sama. Jadilah manusia pemaaf. Bebaskan diri dari sesuatu yang disebut sebagai “sakit hati” itu. Masih banyak hal berguna dalam hidup ini bisa dilakukan, tak perlu membawa dendam sepanjang hidup.

Ada Contoh yang Baik

Dalam ajaran Islam, balas dendam itu tidak dilarang, tetapi memaafkan itu jauh lebih baik. Suatu hari ‘Aisyah tengah duduk santai bersama suaminya, Rasulullah Saw. Beliau dikagetkan oleh kedatangan seorang Yahudi yang minta izin masuk ke rumahnya dengan ucapan: “Assamu’alaikum” (kecelakaan bagimu) sebagai ganti ucapan “Assalaamu’alaikum”   kepada Rasulullah Saw.

Tak lama berselang, datang lagi Yahudi lain dengan tingkah laku yang sama. Ia masuk dan mengucapkan “Assamu’alaikum” juga. Jelas sekali bahwa mereka datang sengaja mengganggu ketenangan Rasulullah Saw.

Menyaksikan pola tingkah mereka, Aisyah marah dan berteriak: “Kalianlah yang celaka!” Namun Rasulullah Saw tidak menyukai reaksi keras istrinya. Beliau menegur:

˜Aisyah, jangan berucap begitu. Seandainya Allah mau menampakkan gambaran keji secara nyata, pasti dinampakkan sesuatu yang paling buruk dan jahat. Lemah lembutlah atas semua yang telah terjadi untuk menghias dan memperindah perbuatan, dan atas segala sesuatu yang bakal terjadi. Itu akan menanamkan keindahan. Kenapa engkau harus sedemikian marahnya?”

“Tidakkah engkau dengar apa yang mereka ucapkan menggantikan ucapan salam?”

“Aku mendengarnya. Aku pun telah menjawabnya wa’alaikum (juga atas kalian). Itu sudah cukup”.

Manusia agung, Muhammad Saw, memang teladan bagi manusia, telah memberikan pelajaran sangat berharga kepada istrinya, juga pelajaran bagi segenap kaum Muslimin. Beliau menunjukkan kepribadian amat matang dan dewasa dalam menghadapi berbagai keadaan, mendalam pemahaman kehidupan, dan tidak mudah terpancing mengumbar amarah. Suatu pengendalian emosi yang luar biasa. ‘Aisyah tidak rela suaminya menerima ucapan tidak pantas. Darahnya mendidih, lalu tanpa kendali keluarlah kata-kata amarah sebagai balasannya.

Sikap ‘Aisyah sebenarnya masih wajar, dan tidak pula berlebihan mengumbar amarahnya, dengan perkataan balasan setimpal. Namun Rasulullah Saw tidak menghendakinya. Beliau ingin agar ‘Aisyah mengganti ucapannya itu dengan kata yang lugas tapi tetap sopan: “Wa’alaikum, itu sudah cukup”.

Penutup

Keperkasaan seseorang tidak diukur dari kekuatan fisiknya. Kejantanan bukanlah mereka yang ahli bertinju, bukan pula mereka yang selalu tak terkalahkan. Islam menyebutkan bahwa orang yang kuat adalah mereka yang dikala marah bisa menahan dirinya. Rasulullah bersabda:

“Si pemberani itu bukanlah seseorang yang cepat meluapkan amarahnya. Tetapi ia adalah orang yang dapat menguasai diri (nafsu)nya sewaktu marah” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmatNya, dan Allah akan memasukkannya di lingkungan hamba-hambanya yang mendapatkan cintaNya: (1) seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat nikmat, (2) seseorang yang meluapkan amarahnya tetapi juga mampu memberi maaf atas kesalahan orang, dan (3) seseorang yang apabila sedang marah, dia mampu menghentikan amarahnya” (HR. Hakim).

__._,_.__

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>